Tehnik Pencabutan Sheath

Juli 21, 2008

I. PENGERTIAN

Mengeluarkan sheath pada pasien pasca kateterisasi jantung dan mencegah terjadinya hematoma pasca pencabutan sheath

 

II. PERSIAPAN

          A. PASIEN

             Sebelum tindakan dilakukan pasien di beri penjelasan tentang prosedur yang     

             akan dilakukan      

      B. LINGKUNGAN

           Jaga privacy dan ketenangan pasien dengan cara menutup tirai / korden

 

     C. PERSIAPAN ALAT

 

1.      Sarung tangan bersih

2.      Betadin sol 10 %

3.      Kassa steril 1

4.      Plester Coklat

5.      Elastikon

6.      Gunting

7.      Tempat sampah / bengkok

8.      Nal 0,9 %

   

 

III. INDIKASI / KRITERIA

A. Pada pasien yang di lakukan tindakan kateterisasi

B.  bila ACT < 100 ( sesuai ketentuan)

      6 – 8 jam pada tindakan PTCA          

 

IV. PROSEDUR

a.  Sebelum melakukan tindakan cuci tangan dan memakai sarung tangan bersih

b. Letakan 3 jari tangan kiri diatas lubang pungsie / actual pungsie dan rasakan   denyutan pembuluh darah

c.  Lasakan sheath di dalam arteri cabut sheath dengan tangan kanan segera secara ‘‘gentle”, biarkan darah mengalir sedikit untuk mencegah clote

d. Setelah dicabut beri tekanan 15 – 20 menit dengan ketentuan

   5 menit I        : tekanan penuh

   5 menit II       : tekanan 75 %

   5 menit III     : tekanan 50 %

   5 menit IV     : tekanan 25 %

   Dengan ketentuan bahwa masih ada aliran darah keperifer dengan melihat atau   

   mengoservasi bagian perifer yang meliputi : denyutan dorsal;is pedis, akral, 

   perfusi. 

   Bila sudah tidak ada pendarahan luka / sekitarnya dibersihkan dengan NaCL    

   0,9% dan luka pungsie oles dengan betadine salp

e.  Kemudian dilakukan balut tekan dengan cara kaki menekuk keluar dan di  

    plester dan di beri bantal pasir

f.   Lakukan observasi adanya hematoma pasca pencabutan

 

V . KOMPLIKASI

1.      Vagal reflex

2.   Nyeri

3.   Hematoma

4.   Pendarahan


Sisi lain Kebenaran Katolik

Juli 18, 2008

Kalau Pak Lek baca komentar atau artikel – artikel yang ada Sanmarista ini Ck….Ck….Ck…..Ck. salut bener. Anak muda sekarang ini sudah pinter-pinter bahkan sangat Biblis sekali. Pak Lek jadi malu. Wis Tuwo ngene kalah karo cah Nom (sudah tua begini kalah dengan anak muda). Maklum iman Pak Lek masih selembar kertas HVS 12.5 gr atau kertas karbon, mana yang lebih tipis. Sampai – sampai ponakanku sendiri (Bagas) protes. Pak Lek kalau posting yo mbok yang kristiani sedikit, ini kan milis gerejawi. Uisiiin tenan aku. Eh….. iya selamat ulang tahun untuk keponakanku Bagas,Valentinus bagus juga, contohnya tuh Si Rossi yang nggeber YZR-M1 itu kan pakai nama valentino. Motor yang di padepokan Honda “Pitung” modif jadi RC212 V kayak punya Dani pedrosa, biar kalau ngapel ke Eva tidak telat melulu. Bai the wee, tetapi ada komentar yang berjudul Salah Nyontek? Jangan-jangan semua itu??? .Ah itu hanya perasaan Pak Lek saja.

Ya?…..Pak lek sebetulnya bisa aja nulis yang begituan sedikit, terus diembel- embeli ayat-ayat. Lha wong tinggal Klik “Suryokontho”(Kaca pembesar=gogle) klik terus masukan kata yang di maksud Jreeettt!!!……….. keluar semua itu apa yang di maksud. Cacing misalnya, Tulis cacing, Cari! dapat deh itu uneg-uneg tentang cacing mulai dari Familionya, ordonya, classnya, divisionya, semua tentang cacing.

Kalau kita amati (wis kayak pengamat CSiS) bukan SCIS tetapi pengamat CBSA (Cah Bodo soyo Akeh) terjemahke Mbak Menik??………….

Dalam 6 minggu berturut turut kalau kita lihat di teks misa disudut paling bawah kanan ada tulisan bersambung dan pada minggu kemarin menjadi selesai (kasihan yang nulis mungkin wis capek) beliau sendiri lho yang mengataken. Dimana judulnya kalau nggak salah tentang SEKTE-SEKTE PROTESTANTISME MENYERANG GEREJA KATOLIK?. Nah disini Pak Lek bukan sok tahu tetapi kebelutan pernah baca buku tentang pengalaman pribadi seorang Tim Staples (bukan joyko atau 3M merknya) yang dulunya seorang pendeta Tothok (karena dari kecil cita-citanya ingin menjadi pendeta seperti orator Billy graham). Selama dinas militer sebagai mariner dia ingin dari hasilnya untuk menabung dan kuliah untuk memperoleh lebik banyak disiplin. Dia terlibat dalam kegiatan kegiatan gereja protestan. Terlibat dalam penginjilan jalanan dan memimpin pendalaman Kitab Suci. Setelah selesai dinas militer dia diminta untuk melayani sebagai partimer gembala di gereja Assemblies of God. Tetapi dalam kedinasan militer dia bertemu seorang Katolik (Matt Dula) bukan Mat Solar Tole!!……

Selama dalam dinas ini pula mereka melakukan perdebatan tentang kepercayaan mereka mana yang benar.

Berikut hal-hal umum atau sering, yang sering dipakai Sekte-sekte atau Protestantisme untuk menyerang gereja kita.

 

Rumus Doa katolik

 

Rumusan doa katolik sebagai sesuatu hal yang bertentangan dengan anjuran Allah tentang ” berdoa berulang-ulang yang sia-sia ( Mat 6:7). Tetapi apakah seorang istri akan keberatan bila seorang suami mengatakan “aku sayang kamu” dan itu di ucapkan berulang-ulang, demikian pula orang Katolik mengatakan cintaNya berulang-ulang dalam doa. Dalam Wahyu 4:8 senantiasa dalam kehadiran Allah, berulang-ulang berdoa, :Kudud, kudus, kudus Tuhan Allah. Ini bukan merupakan “ulangan yang sia-sia. Tetapi ulangan secara Biblis. Pak lek kalau yang di Tanya pasti jawabnya lha itu sudah dari sononya waktu pelajaran agama (dulu belum tahu katekis) sekarang juga belum heheh. Apa Mbah?….

 

Saudara Yesus

 

Orang Kristen sering menyerang tentang keperawanan Maria. Ayat yang sering di pakai Mat 13 : 55. “Saudara-saudara” Yesus seperti Yakobus, Jusuf, Simon, dan Yudas.

Lha kalau sampeyan ndak tahu jawabannya gimana apa terus kita Ya…ya…..ya apa ngangguk kayak enthung (kepompong). Pak lek juga pernah ngalami seperti ini tapi Pak Lek hanya senyum saja!… Amin. Karena tidak tahu jawabannya ( tidak pernah baca kitab suci). Baca pas kalau lagi di gereja. Itu saja yang baca lector apa lektris.(tulus dari dalam hati). Bangga Lagi!!!!!………. Kalau kita lihat di Luk 6:15-16 di situ diterangkan bahwa Yakobus dan Yusuf pernah di sebut “saudara” dari Yesus, di sebut putera-putera dari Alfeus (bdk.Mat 10:3, 27:25) yang isterinya Maria yang sesungguhnya kakak dari Ibu Perawan Maria atau mungkin keponakannya (bdk Yoh 19:25) yang sebenarnya adalah saudara sepupu Yesus.. Kayak Pak Lek dengan Mbak Menik tapi lain bapak. Wusssss!!!!. Ngawur!

Istilah saudara dalam bahasa Ibrani sering dipakai untuk saudara sepupu atau lain hubungan keluarga dalam Kitab Suci. Dan juga dalam Dalam Yoh 19:27, kita bisa baca dan sejak itu murd-muridnya menerima dia di dalam rumahnya. Itu membuktikan Keperawanan Maria.

 

Janganlah kamu menyebut siapapun “Bapa”

 

Orang Kristen berpendapat bahwa menyebut pastor mereka dengan Bapa, itu melanggar perintah Tuhan.(Mat 23:9). Bisa di tunjukkan dengan, bahwa dalam konteks Tuhan Yesus mengatakan bahwa tidak boleh memuliakan seorang manusia yang hanya milik Tuhan, dan tidak boleh menganggap makhluk lain sebagai gantinya Bapa Kami di sorga.

Seperti Paulus terus-menerus melakukannya dalam Roma 4. Paulus membuat pernyataan yang mengagumkan, sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi Bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu.(1 Kor 4:15). Perikop ini menjelaskan beberapa alasan teologi mengapa orang-orang Katolik memanggil pastor “bapa”. (Kis 6:12-15, 7:1-2) dan penulis lain Perjanjian Baru memanggil pria sebagai “bapa” (bdk. Rm 4:17-18, 1 Tes 2:2:11, 1 Yoh 2 :13:14). Ya ini kalau di Negara kita mungkin di bagian timur. Kalau di Jakarte ini ada yang menyebut Pastor atau Romo Lain lagi kalau di ndeso Pak Lek menyebutnya dengan “Romo” . kalau Pastor identik dengan “pasturan”. Lho!!!…. Pastoran berarti kan? Tempat tinggal pastor, terus tempat tinggal Romo Apa??. Mosok Romoan?… LAN…..JUT!!!!

 

 

Sakramen Pengakuan Dosa.

 

Orang Kristen sering menentang ini dengan mengatakan ” Hanya Allah yang mengampuni dosa”. Kami langsung datang kepada Allah. Tuhan Yesus berkata, “damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu. Dan sesudah berkata demikian Ia menghembusi mereka dan berkata, ” Terimalah Roh Kudus.”. Jikalau kamu mengampuni dosa orang , dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada. (Yoh 20:21) Dengan demikian Yesus memberikan otoritas ini untuk bertindak atas namaNya untuk mengampuni dosa manusia. Kalau dalam istilah hukum Ia memberikan “kuasa penuh”.

Kita juga bisa baca lagi di 2 Kor 2:10 harus diampuni orang yang bersalah dan 2 Kor 5:18-20 pelayanan untuk perdamaian.

 

Tradisi

 

Pandangan orang Kristen tentang tradisi sebagai suatu konotasi yang negative karena mereka tidak percaya bahwa begitu banyak keberanaran kristiani yang otentik dan dapat memperkaya Kitab Suci berasal dari tradisi

Paulus perintahkan kepada jemaat kristiani pertama untuk berdiri tegak dan mempertahankan tradisi-tradisi yang mereka diajarkan melalui pernyataan verbal maupun surat-surat (2 Tes 2:15) Dan dalam Yoh 21:25 bisa kita baca jelas masih banyak hal-hal lain yang di perbuat oleh Yesus. Dan itu merupakan tradisi yang sekarang kita lakukan.

 

Bunda Maria

 

Satu-satunya doktrin Katolik yang paling sulit di terima oleh orang-orang Kristen adalah menerima peranan Maria di dalam Gereja. Bahwa orang Katolik tidak menyembah siapun juga kecuali Allah, namun kita menghormati dan menjunjung tinggi yang sekarang berada dalam sorga. Dan mereka berpendapat bahwa satu-satunya Pengantara antara Allah dengan manusia adalah Kristus (bdk.1 Tim 2:5).Kitab Suci jelas berkata bahwa Allah memberikan karunia-karunia, “melalui doa-doa dari orang-orang banyak (2 Kor 1:11), Faktanya , Kitab Suci jelas berkata bahwa jika orang-orang Kristiani menawarkan bantuan dalam permohonan, doa-doa, permintaan dan ucapan syukur dan terima kasih bagi seseorang maka hal-hal ini adalah baik. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, juru selamat kita” (1 Tim 2:1-3) (sumber dari acara TV “The John Ankershow, acara stasiun TV pembela fundamentalis antara Dr. Walter Martin salah satu pembela Injil dengan seorang pastor Yesuit.) Peranan Maria sebagai “pengatara doa” Surgawi dan ini sangat Biblis. Dalam menghormati karya Allah, penuh rahmat dan keindahan dalam Maria, orang-orang Katolik telah memenuhi nubuat Biblis ketika ia bersahaja dengan mengatakan : “sesungguhnya mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Maha Kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan atas namaNya adalah kudus.(Luk 1:48-49)

Bunda Allah. Elisabeth menyebutnya sebagai Ibu dari Tuhanku, “bukan “ibu dari tubuh Tuhanku”.Maria memberi Yesus hanya tubuh-alaminya, akan tetapi hal itu memang benar pada semua ibu-ibu atau bapak-bapak manusia lainnya. Mereka hanya memberi tubuh. Tuhan yang menciptakan jiwa-rohnya. Ibu melahirkan seorang bayi bukan alamnya. Maria melahirkan seorang Pribadi Ilahi, bukan alam PribadiNya.

 

Apa yang Harus kita perbuat?

 

Larinya sebagian umat Katolik ke gereja lain secara tidak langsung kita turut andil bagian. Kita kadang tahu secara langsung maupun tidak langsung, dengan iming-iming dalam bentuk material maupun yang lainnya. Mari kita pertebal iman kita yang seperti selembar kertas HVS 12,5 gr tadi menjadi 200 gr hehehe!!! Dengan lebih banyak membaca Kitab Suci, jangan pas hanya di gereja saja kayak Pak Lek. Dalam studi di Amerika pada tahun 1978 seorang George Gallup mengatakan bahwa Gerekja Katolik adalah raksasa penginjil yang sedang tidur. Gereja mempunyai tradisi, struktur dan umat tetapi tidak mempunyai Api. Jangan sampai kelemahan ini menjadi sasaran empuk gereja atau sekte-sekte yang lain. Puji dan Syukur kepada Tuhan Jumat(16 feb) ini di mulainya kursus Kitab Suci, Pak Lek harapken gunakan kesempatan ini sebaek-baeknya.Mudah-mudahan tidak hanya paket A, kalau perlu sampai paket Z. Amin.


Persiapan Pasien Angiografy

Juli 18, 2008

I. PENGERTIAN
Persiapan pasien dimana ketika keputusan untuk tindakan (diagnostic/intervensi) dibuat dan berakhir ketika pasien dikirim ke ruang / meja tindakan (Buku ajar medical bedah,2002 )

II. PERSIAPAN
A. Pengkajian fisik umum
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
Sebagai dasar untuk menentukan dosis kontras atau pemakaian obat – obat lainnya, untuk pengukuran hemodinamik CO/CI (Kardiak Output/Kardiak Indek) dan obat bila diperlukan dan tingkat kesulitan yang dihadapi dalam pemilihan pembuluh darah.

2. Terapi medikasi sebelumnya
Semua obat yang digunakan oleh pasien harus dikonfirmasikan dahulu seperti obat – obat anti koagulasi, obat anti platelet ,obat – obat anti hipertensi, obat diuretik tetap diberikan, di maksudkan agar tidak mengganggu hemodinamik selama tindakan. Pada pasien yang akan dilakukan PTCA (Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty) apabila anti platelet dan anti agregasi belum diberikan lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberikan obat-obat tersebut

3. Fungsi Ginjal
Gambaran fungsi ginjal yang optimal pada saat ini akan menggambarkan keadaan fungsi ginjal yang baik dan merupakan indikasi bahwa ginjal mampu untuk membuang sisa-sisa metabolisme, racun/toksin secara adequat.

4. Fungsi Endokrin
Pada pasien dengan diabetes tidak terkontrol bahaya yang mengancam adalah dehidrasi, hiploglikemia. Terjadi bila diperlukan tindakan yang lama dan intake cairan glukose tidak adeguat atau sebaliknya

5. Fungsi Imunologi
Untuk menentukan ada tidaknya alergi terhadap suatu zat karena dalam tindakan menggunakan zat kontras yang dapat menimbulkan alergi.

6. Cek Pulsasi
Pada pasien yang dilakukan penusukan di daerah femoralis harus di cek pulsasi perifer di dorsalis pedis dan “ allen test” bila dilakukan di arteri radialis

7. Persiapan Intestinal
Pada pasien yang dilakukan tindakan diagostik dan intervensi dengan anestesi umum pasien dipuasakan minimal 4 jam di maksudkan agar lambung dalam keadaan kosong sehingga pada waktu tindakan aspirasi tidak terjadi atau dapat di cegah, dan pada pasien dengan anestesi lokal puasa makan 4 jam atau puasa disesuaikan dengan usia kecuali obat-obatan yang biasa diminum( antihipertensi,diuretik,anti platelet dan anti agregasi

7. Persiapan Kulit.
Untuk mengurangi sumber bakteri / kuman tanpa mencederai kulit pencukuran dilakukan 2 – 4 jam sebelum tindakan
Fokal infeksi dapat dicegah / tidak terjadi dan bila ada luka baru segera dibersihkan / didesinfektan.

8. Pemeriksaan penunjang lainnya
Pemeriksaan laboratorium seperti hemoglobin, hematokrit, masa perdarahan, masa pembekuan, ureum, creatinin di perlukan untuk mengetahui suplay oksigen ke miocard baik / tidak, kekentalan darah / viskositas, berhubungan dengan lama penekanan pasca tindakan dan perlunya spoeling selama tindakan.

9. Data Dasar Lainnya
Data dasar lainnya seperti hasil elektrokardiografi 12 lead sebeleumnya, kemudian hasil echo,MS CT Scanning dapat untuk
membandingkan atau mempermudah dalam melakukan tindakan
sebelumnya

B. INFORMED CONSENT
– Pasien diberi penjelasan oleh dokter tentang tindakan yang
akan dilakukan meliputi prosedur dan tujuan, serta
komplikasi yang mungkin terjadi.
– Izin tertulis yang di buat sadar dan sukarela dari pasien di
perlukan sebelum suatu tindakan dilakukan.

C. PENDIDIKAN PASIEN
Pendidikan perlu di berikan untuk mencegah ansietas pasien dan perasaan bingung. Pendidikan dapat berupa bila dilakukan penusukan di daerah radialis pasien istirahat minimal 4 jam dan pergelangan tangan tidak boleh di tekuk + 4 – 6 jam dan selama 7 hari tidak boleh mengangkat beban 7,5kg. Untuk femoralis setelah sheath dicabut harus istirahat total 6 – 8 jam.

III. PELAKSANAAN
A. Pasien ODC (One Day Care)
1. Lakukan anamnese lengkap dan isi kelengkapan formulir yang di perlukan seperti Informed   Consent, Observasi hemodinamik / tanda-tanda vital
2. Lakukan pencukuran bila belum dicukur, ganti baju dan di pakaikan T verban, serta timbang berat badan / tinggi badan.
3. Pasien dikirim ke ruang tindakan
4. Setelah selesai pasien di observasi ke ruang one day care, 4 jam kemudian buka Nichiban, pasang plester bila tidak ada hematoma / pendarahan pasien boleh pulang, bila masih ada pendarahan pasien dirawat 1 hari lagi.

B. Pasien Ambulatory
1. Untuk pasien yang dilakukan koronarografi dan stand by PTCA dan ternyata dilakukan PTCA + Stent maka pasien di carikan kamar perawatan.

C. Pasien elektif dari ruang perawatan
1. Setelah pasien di lengkapi semua perlengkapan dan pendokumentasian pasien di bawa keruang tindakan
2. Bila pasien hanya dilakukan coronarografi setelah selesai pasien dipindahkan ke recovery room dan di antar / di jemput pindah keruangan .
3. Bila pasien dilakukan PTCA. Pasien di pindahkan ke ruangan intermediate / CVC(Cardiovasculer Care)

D. Pasien primary PTCA / Cito TPM (Temporary Pace Maker)
1. Pasien yang datang dari ruangan emergency untuk di lakukan tindakan cito setelah semua tindakan selesai pasien di pindahkan ke ruangan CVC .


Prosedur Tindakan Angiografy

Juli 18, 2008

A.TUJUAN UMUM
Setelah membaca prosedur ini diharapkan perawat ruang cath.lab dapat melakukan assintent atau membantu dokter operator dalam melakukan tindakan diagnostik kateterisasi angiografi koroner

B.TUJUAN KHUSUS
Setelah mengikuti latihan ini perawat cath.lab mampu :
1. Menyebutkan tujuan pemeriksaan
2. Menyebutkan alat-alat yang dipakai dan prinsip universal precaution
3. Mengidentifikasi kemungkinan komplikasi yang timbul
4. Mengidentifikasi jenis pembuluh darah jantung
5. Membaca hasil pemeriksaan angiografi koroner
6. Mengetahui posisi X ray yang ideal untuk mendapatkan gambaran koroner yang jelas

C. URUTAN KERJA
I. PENGERTIAN

Angiografi adalah tehnik pemberian zat kontras.Sedangkan angiografi koroner adalah prosedur diagnostik dengan tehnik pemberian zat kontras ke arteri koroner yang dilakukan untuk mendapatkan hasil / kelainan dari pembuluh darah arteri koroner baik itu presentase, letak lumen, jumlah kondisi dari penyempitan lumen, besar kecilnya pembuluh darah, ada tidaknya kolateral dan fungsi ventrikel kiri.

II. INDIKASI
1. Penyakit koroner
– Serangan angina baru
– Angina tidak stabil
– Iscemia tidak tampak
– TMT  (Treadmill Test positif)
– Nyeri dada
2. Infark miocard
– Angina tidak stabil post infark
– Gagal trombosis
– Shock
– Komplikasi mekanik
3. Evaluasi : a) Post operasi CABG (Coronary Bypass Graff)
b) Post PTCA
c) Penelitian

III. KONTRA INDIKASI
1. Relatif
– Cronic heart failure tidak terkontrol, hipertensi, aritmia
– Cerebrovasculer accident / cerebrovasculer desease  1 bulan
– Infeksi / demam
– Elektrolit inbalance
– Perdarahan gastro intestinal akut
– Kehamilan
– Anti koagulasi
– Pasien tidak kooperatif
– Keracunan obat
– Gagal ginjal
2. Mutlak
– Tidak cukup perlengkapan / fasilitas

IV. PERSIAPAN
a. Alat
1) Satu set angio pack yang terdiri dari
– Abdominal sheet 1
– Towel segi empat 3
– Lithotomy sheet 1
– I/I cover 1
– Hand towel 2
– Goun 2
– Sigle Layer 1
2) Satu set angio instrument yang terdiri:
– Sponge Holder 1
– Towel Clip 4
– Arteri klem besar 1
– Arteri klem kecil 1
– Galipot 2
– Kidney disk 2
– Round bowl 1
– Tray 1
3). Gauze swab 2 pack
4). Gauze depper 1 pack
5). Syringe 10 cc 2
6). Blade scapel No: 11 1
7). Nedle percutan 1
8).Introduser sheath 1 set
9).J wire 0.038 inc 3 mm 150 cm 1
10).Kateter Judkin Left 4 6 F 1
11).Kateter Judkin Right 4 6 F 1
12).Kateter pigtail 6 F bila diperlukan
13).Pressure monitor Line152 cm 1
14).Glove steril 1 pc
15).Three Way rotating 1
16).Dome steril 1
17).Cairan
– Nacl 0.9 % + heparin 2500 iu 2 flb
– Betadin Solution secukupnya
– Alkohol 70% secukupnya
18). Obat-obatan
– Lidokain 2%/xylocain 5 amp/20 cc
– Kontras secukupnya

b. Pasien
– Pasien biasanya di puasakan 4 – 6 jam sebelum tindakan dan dilakukan pemeriksaan lab ( Hb, Ht, ureum, creatinin)
– Berikan penjelasan tentang tindakan / prosedur yang akan dilakukan, tehnik batuk, nafas dalam dan hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama tindakan berlangsung

c. Administrasi
 Informed concent
 Status/file pasien
 Surat jaminan

V. PROSEDUR TINDAKAN
1. Pasien masuk ruang tindakan
2 Dilakukan perekaman EKG (Elektrokardiografi) 12 lead
3. Preparasi daerah yang akan dilakukan pungsi bila FEAR(Femoral arteri right) bersihkan daerah inguinalis kanan dan kiri dengan betadin 10%secara aseptik dan anti septik
Bila di radialis / brakialis bersihkan dengan betadin 10% daerah sekitarnya .dengan teknik aseptic dan antiseptik.
4. Tutup daerah ,tusukan dengan duk.lubang,daerah dada dan perut dengan laken dan daerah extremitas bawah dengan laken besar,semua dalam keadaan steril.
5. Dilakukan anestesi lokal dahulu ,dengan lidocain 2 % kemudian dibuat sayatan /luka kecil.
6. Dilakukan pungsi FEAR , masukan J wire / pendek.
7. Setelah J wire pendek masukan sheath jarum dicabut wire dipertahankan pada pembuluh darah, kemudian sheath masuk bersama introduser J wire pendek, dicabut .
8. Spoel sheath dengan NaCL + heparin 2500 iu, sebelumnya .aspirasi ,spoul sampai bersih .
9. Masukan kateter JUDKIN RIGHT 4. 6 F .yang didalam nya sudah ada J wire panjang. masukan sampai + 1/3 bawah lutut dan tahan wire.
10. Bila kateter sudah sampai di sinus valsava, dorong wire panjang pada saat sistolik supaya masuk ke LV(Left Ventrikel),setelah masuk LV tarik wire panjang .saambung dengan three way aspirasi sedikit kemudian di lakukan pengukuran dan pullback kateter untuk mengukur gradien .
11. Bila kateter sudah masuk ke muara RCA(Right Coronary Arteri)
12. Dilakukan kororanografi dengan posisi RAO(Right Anterior Obliqe) 300 dan LAO(Left Anterior Obliqe) 400, CRANIAL 150 – 200.
13. Cabut cartheter dan ganti dengan JUDKIN LEFT 4 6 F.
14. Lakukan pengambilan gambar pada posisi :
• LAO – CRANIAL ( 400 – 250
• RAO – CAUDAL ( 20 – 20 )
• CRANIAL ( 300 )
• CAUDAL ( 30 )
• ( LAO 45 – CAU 20 )
15. Cabut kateter dan ganti dengan pigtail untuk LV grafi bila diperlukan.
16. Masukkan pigtail sampai LV dan sambung kateter dengan alat injektor dengan
ketentuan volume 30 kecepatan 12 ml / sec dengan posisi RAO 30 tekanan 450 Psi
17. Prosedur selesai pasien diberi penjelasan bersihkan daerah tusukan, alat – alat di
bersihkan dan di rendam
18. Pasien di pindahkan ke RR(Recovery Room).


BANTUAN HIDUP DASAR

Juli 18, 2008

PENDAHULUAN

         

            Usaha yang dilakukakn untuk mempertahankan kehidupan pada saat pasien atau korban mengalami keadaan yang mengancam jiwa dikenal dengan Bantuan Hidup Dasar/Basic Life Support (BLS). Sedangkan bantuan yang diberikan pada pasien /korban yang dilakukan dirumah sakit  sebagai kelanjutan  dari BHD disebut Bantuan Hidup Lanjut/Advance Cardiac Life Support (ACLS). 

            Yang dilakukan pada saat pertama kali menemukan pasien/korban adalah melakukan penilaian dini. Jika dalam penilaian dini penolong menemukan gangguan pada salah satu dari tiga komponen ini:

  1. Tersumbatnya jalan nafas
  2. Tidak menemukan adanya nafas
  3. Tida ada nadi

Maka penolong harus segera melakukan tindakan Bantuan Hidup dasar

 

 SISTEM PERNAFASAN DAN SIRKULASI

            Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem, diantaranya yang utama adalah sistem pernafasn dan sistem sirkulasi

Kedua sistem ini meruapakan komponen utama dalam mempertahankan hidup.Terganggunya salah satu fungsi ini dapat mengakibatkan ancaman kehilangan nyawa. Tubuh dapat menyimpan makanan untuk beberapa minggu dan menyimpan air untuk beberapa hari, tetapi hanya dapat menyimpan oksigen (O²)  untuk beberapa menit saja.

Sistem pernafasan  mensuplai oksigen kedalam tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbondioksida (CO²). Sistem sirkulasi inilah yang bertanggungjawab memberikan suplai oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh.

 

 

                                               

 

                                                                           

Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah:

  1. Jantung
  2. Pembuluh Darah ( Arteri, Vena, Kapiler)
  3. Darah dan kompone-komponennya.

            Jantung berfungsi untuk memompa darah dan kerjanya sangat berhubungan erat dengan sistem pernafasan, pada umumnya semakin cepat kerja jantung semakin cepat pula frekuensi pernafasan dan sebaliknya.

Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab,diantaranya:

  1. Penyakit jantung
  2. Gangguan pernafasan
  3. Syok
  4. Komplikasi penyakit lain: Stroke
  5. Penurunan kesadaran

 

Beberapa istilah yang berhubungan dengan keadaan sistem pernafasan dan sistem sirkulasi yang terganggu:

MATI

Dalam istilah kedokteran dikenal dengan dua istilah untuk mati: mati klinis dan mati biologis

 

Mati Klinis

           Tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi.Mati klinis dapat reversible.Pasien /korban mempunyai kesempatan waktu selama 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi,sehingga memberikan kesempatan kedua sistem tersebut berfungsi kembali.

 

Mati Biologis

           Terjadi kematian sel, dimana kematian sel dimulai terutama sel otak dan bersifat irreversible, biasa terjadi dalam waktu 8 – 10 menit dari henti jantung.

 

 

                                                                      

Apabila Bantuan Hidup Dasar dilakukan cukup cepat, kematian mungkin dapat dihindari seperti tampak pada tabel di bawah ini:

Keterlambatan                                                 Kemungkinan berhasil

           1 menit                                                             98 dari 100

           2 menit                                                             50 dari 100

         10 menit                                                                           1 dari 100

 

Tanda-tanda pasti bahwa pasien/korban sudah mengalami kematian :

Lebam mayat

Muncul sekitar 20 – 30 menit setelah kematian, darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah akibat daya tarik bumi. Terlihat sebagai warna ungu pada kulit.

 

Kaku mayat

Kaku pada tubuh dan anggota gerak setelah kematian. Terjadi 1- 23 jam kematian

 

Tanda lainnya : cedera mematikan

Cedera yang bentuknya begitu parah sehingga hampir dapat dipastikan pasien/korban tersebut tidak mungkin bertahan hidup.

 

Pasien/korban mengalami henti nafas dan henti jantung mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam ”rantai penyelamatan” (Chain of Survival) dilakukan. Rantai ini diperkenalkan oleh AHA (American Heart Association) :

1.      Kecepatan dalam permintaan bantuan

2.      Kecepatan dalam melakukan RJP

3.      Kecepatan dalam melakukan Defibrilasi

4.      Kecepatan dalam pertolongan Hidup Lanjut di RS (Advance Cardiac Life Support)   

 

 

 

 

                                                                       

INDIKASI

  1. Henti Nafas

Henti nafas adalah berhentinya pernafasan pada pasien/korban yang ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari pasien/korban. Merupakan kasus yang harus dilakukan Bantuan Hidup dasar. Henti nafas sendiri dapat disebabkan atau terjadi karena:

w    Tenggelam

w        Stroke

w        Obstruksi jalan nafas

w        Epiglositis

w        Overdosis karena obat

w        Tersengat listrik

w        Infark miokard

w        Tesambar petir

w        Koma akibat berbagai macam kasus

 

      Pada saat awal terjadinya henti nafas oksigen(O²) masih beredar dalam darah untuk beberapa menit dan jantung masih berdenyut sehingga darah masih disirkulasikan keseluruh tubuh termasuk organ vital lainya terutama otak. Bila pada keadaan ini diberikan bantuan nafas akan sangat bermanfaat dan dapat mencegah terjadinya henti jantung.

 

  1. Henti Jantung

Pada keadaan henti jantung sirkulasi berhenti.Keadaan ini dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital lainnya kekurangan oksigen( O²) dan biasanya ditandai dengan tanda awal nafas yang tersengal-sengal atau

” air Hunger”.

 

                                                                 

 

 

                                                                 

Tujuan  dari bantuan hidup dasar sendiri, yaitu:

  1. Mencegah berhentinya sirkulasi atau berhentinya respirasi (nafas)
  2. Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkukasi (fungsi jantung) dan ventilasi (fungsi pernafasan/paru) pada pasien/korban yang mengalami henti jantung atau henti nafas melalui Cardio Pulmonary Resuciation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP).   

Dalam melakukan RJP dibagi menjadi dua tahap:

a.       Survei Primer ( Primary Survey)

Dapat/boleh dilakukan oleh setiap orang ( orang awam) yang sudah dilatih BHD

b.      Survei Sekunder (Secondary survey)

Dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis terlatih dan merupakan lanjutan dari survei primer (advance)

 

SURVEI PRIMER

           Survei ini difokuskan pada bantuan nafas dan sirkulasi serta defibrilasi. Untuk dapat mengingat dengan mudah tindakan pada survei primer ini dirumuskan dengan  huruf abjad : A, B, C, dan D.

A         airway             (jalan nafas)

B         breathing         (bantuan nafas)

C         circulation       (bantuan sirkulasi)

D        defibrillation   (terapi listrik)

 

           Sebelum melakukan tahapan A (airway) terlebih dahulu dilakukan prosedur awal pada pasien/korban, yaitu:

  1.  
    1. Memastikan keamanan lingkungan

Aman bagi penolong maupun aman bagi pasien/korban itu sendiri.

 

  1.  
    1. Memastikan kesadaran pasien/korban

Dalam memastikan pasien/korban dapat dilakukan dengan menyentuh atau menggoyangkan bahu pasien/korban dengan lembut dan mantap, sambil memanggil namanya atau Pak!!!/ Bu!!!!/ Mas!!!/Mbak!!!, dll.

                                                     

  1.  
    1. Meminta pertolongan

Bila diyakini pasien/korban tidak sadar atau tidak ada respon segera minta pertolongan dengan cara : berteriak ”tolong !!!!” beritahukan posisi dimana, pergunakan alat komunikasi yang ada, atau aktifkan bel/sistem emergency yang ada (bel emergency di rumah sakit).

 

  1.  
    1. Memperbaiki posisi pasien/korban

Tindakan BHD yang efektif bila pasien/korban dalam posisi telentang, berada pada permukaaan yang rata/keras dan kering.Bila ditemukan pasien/korban miring atau telungkup pasien/korban harus ditelentangkan dulu dengan membalikkan sebagai satu kesatuan yang utuh untuk mencegah cedera/komplikasi.

 

  1.  
    1. Mengatur posisi penolong

Posisi penolong berlutut sejajar dengan bahu pasien/korban agar pada ssat memberikan batuan nafas dan bantuan sirkulasi penolong tidak perlu banyak pergerakan.

 

Gambar 1

Cek kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A  (AIRWAY) Jalan Nafas

Setelah melakukan tahap awal kemudian :

1.      Pemeriksaan Jalan Nafas

             Untuk memastikan jalan nafas bebas dari sumbatan karena benda asing. Bila sumbatan ada dapat dibersihkan dengan tehnik cross finger ( ibu jari diletakkan berlawan dengan jari telunjuk pada mulukorban)

Cara melakukan tehnik cross finger

a.       Silangkan ibu jari dan telunjuk penolong

b.      Letakkan ibu jari pada gigi seri bawah korban/pasien dan jari telinjuk pada gigi seri atas

c.       Lakukan gerakan seperti menggunting untuk membuka mulut pasien/korban.

d.      Periksa mulut setelah terbuka apakah ada cairan,benda asing yang menyumbat jalan nafas.

 

2.      Membuka Jalan Nafas

             Pada pasien/korban tidak sadar tonus otot menghilang, maka lidah dan epiglotis akan menutup farink dan larink sehingga menyebabkan sumbatan jalan nafas.Keadaan ini dapat dibebaskan dengan tengadah kepala topang dahi ( Head tild Chin lift) dan manuver pendorongan mandibula ( Jaw thrush manuver).

 

 

 

                                                                                                

 

Cara melakukan tehnik Head tilt chin lift

a.       Letakkan tangan pada dahi pasien/korban

b.      Tekan dahi sedikit mengarah ke depan dengan telapak tangan penolong.

c.       Letakkan ujung jari tangan lainnya dibawah bagian ujung tulang rahang pasien/korban

d.      Tengadahkan kepala dan tahan/tekan dahi pasien/korban secara bersamaan sampai kepala pasien/korban pada posisi ekstensi.

 

Cara melakukan tehnik jaw thrust manuver

a.       Letakkan kedua siku penolong sejajar dengan posisi pasien/korban

b.      Kedua tangan memegang sisi kepala pasien/korban

c.       Penolong memegang kedua sisi rahang

d.      Kedua tangan penolong menggerakkan rahang keposisi depan secara perlahan

e.       Pertahankan posisi mulut pasien/korban tetap terbuka

 

Gambar 3

Pembebasan Jalan Nafas

 

 

 

 

 

 

                                                

 

                                                                        

B  ( BREATHING) Bantuan Nafas

Terdiri dari 2 tahap :

1.Memastikan pasien/korban tidak bernafas

             Dengan cara melihat pergerakan naik turunya dada, mendengar bunyi nafas dan merasakan hembusan nafas, dengan tehnik penolong mendekatkan telinga diatas mulut dan hidung pasien/korban sambil tetap mempertahankan jalan nafas tetap terbuka. Dilakukan tidak lebih dari 10 detik

 

Gambar 4

Cek pernafasan

 

3.      Memberikan bantuan nafas

             Bantuan nafas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung, mulut ke stoma( lubang yang dibuat pada tenggorokan). Bantuan nafas diberikan sebanyak 2 kali, waktu tiap kali hembusan 1,5 – 2 detik dan volume 700 ml – 1000 ml (10 ml/kg atau sampai terlihat dada pasien/korban mengembang.Konsentrasi oksigen yang diberikan 16 – 17 %. Perhatikan respon pasien.

 

Cara memberikan bantuan pernafasan :

o       Mulut ke mulut

       Merupakan cara yang  cepat dan efektif. Pada saat memberikan penolong tarik nafas dan mulut penolong menutup seluruhnya mulut pasien/korban dan hidung pasien/korban harus ditutup dengan telunjuk dan ibu jari penolong.Volume udara yang berlebihan dapat menyebabkan udara masuk ke lambung

                                                      

 

                                                                  

 

Gambar 5

Pemberian nafas dari mulut ke mulut

 

o       Mulut ke hidung

       Direkomendasikan bila bantuan dari mulut korban tidak memungkinkan,misalnya pasien/korban mengalami trismus atau luka berat.Penolong sebaiknya menutup mulut  pasien/korban pada saat memberikan bantuan nafas.

 

 

Gambar 6

Pernafasan dari mulut ke hidung

 

o       Mulut ke stoma

       Dilakukan pada pasien/korban yang terpasang trakheostomi atau mengalami laringotomi.

 

 

 

                                                                  

 

Gambar 7

Pernafasan dari mulut ke stoma

 

 

C  (CIRCULATION)  bantuan sirkulasi

Terdiri dari 2 tahap :

1.      Memastikan ada tidaknya denyut jantung pasien/korban

                   Ditentukan dengan meraba arteri karotis didaerah leher pasien/korban dengan cara dua atau tiga jari penolong meraba pertengahan leher sehingga teraba trakea, kemudian digeser ke arah penolong kira-kira 1-2 cm, raba dengan lembut selam 5 – 10 detik. Bila teraba penolong harus memeriksa pernafasan, bila tidak ada nafas berikan bantuan nafas 12 kali/menit. Bila ada nafas pertahankan airway pasien/korban.

 

Gambar 8

Pemeriksaan denyut nadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Memberikan bantuan sirkulasi

                   Jika dipastikan tidak ada denyut jantung berikan bantuan sirkulasi atau kompresi jantung luar dengan cara:

o       Tiga jari penolong ( telunjuk,tengan dan manis) menelusuri tulang iga pasien/korban yang dekat dengan sisi penolong sehingga bertemu tulang dada (sternum)

o       Dari tulang dada (sternum) diukur 2- 3 jari ke atas. Daerah tersebut merupakan tempat untuk meletakkan tangan penolong.

o       Letakkan kedua tangan pada posisi tadi dengan cara menumpuk satu telapak tangan diatas telapak tangan yang lain.Hindari jari-jari menyentuh didnding dada pasien/korban.

o       Posisi badan penolong tegak lurus menekan dinding dada pasien/korban dengan tenaga dari berat badannya secara teratur sebanyak 15 kali dengan  kedalaman   penekanan 1,5 – 2 inchi ( 3,8 – 5 cm)

o       Tekanan pada dada harus dilepaskan dan dada dibiarkan mengembang kembali ke posisi semula setiap kali kompresi.Waktu penekanan dan melepaskan kompresi harus sama ( 50% duty cycle)

o       Tangan tidak boleh berubah posisi

o       Ratio bantuan sirkulasi dan bantuan nafas 15 : 2 baik oleh satu penolong maupun dua penolng.Kecepatan kompresi adalah 100 kali permenit. Dilakukan selama 4 siklu.

 

Gambar 9

Posisi tangan pada kompresi dada

 

 

Tindakan kompresi  yang benar akan menghasilkan tekanan sistolik 60 – 80 mmHg dan diastolik yang sangat rendah.Selang waktu mulai dari menemukan pasien/korban sampai dilakukan tindakan bantuan sirkulasi tidak lebih dari 30 detik.

 

 

D  (DEFIBRILATION)  terapi listrik

Terapi dengan memberikan energi listrik Dilakukan pada pasien/korban yang penyebab henti jantung adalah gangguan irama jantung. Penyebab utama adalah ventrikel takikardi atau ventrikel fibrilasi.Pada penggunaan orang awam tersedia alat Automatic External Defibrilation (AED) 

 

 

PENILAIAN ULANG

            Sesudah 4 siklus ventilasi dan kompresi kemudian pasien/korban dievaluasi kembali

  • Jika tidak ada denyut jantung dilakukan kompresi dan bantuan nafas dengan ratio 15 : 2
  • Jika ada nafas dan denyut  jantung teraba letakkan korban pada posisi  sisi mantap
  • Jika tidak ada nafas tetapi teraba denyut jantung, berikan bantuan nafas sebanyak 12 kali permenit dan monitor denyut jantung setiap saat.

  

ALUR BHD

 

 

PASTIKAN LINGKUNGAN AMAN

 

 

PASTIKAN KESADARAN KORBAN

 

 

MINTA PERTOLONGAN

 

 

PERBAIKI POSISI KORBAN

 

 

POSISI PENOLONG

 

 

                                   AIRWAY           Pertahankan airway        

                                              (Periksa jalan nafas)     Recovery position

        (Buka jalan nafas)

 

 

                                                 BREATHING         TIDAK  beri Nafas 12x/mnt

                (Pastikan ada/tidak nafas)

 

                                               

 

                                                ADA                            TIDAK

                                                                               

                                                                               

 

                                                                     Bantuan nafas 2 kali                                                                    

 

 

            CIRCULATION

          (Pastikan ada / tidak nadi)

 

                            

                             ADA                    TIDAK

                                               

                                                                               

                    BANTUAN SIRKULASI

                       (30 kali kompresi 2 kali blow)

                        dilakukan 5 kali siklus

 

                     Cek nadi

 

 

 

                                                         


ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN

Juli 16, 2008

 

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM RESPIRASI

Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O²) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel  dan karbondioksida (CO²) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru.

 

STRUKUTR SISTEM RESPIRASI

          Sistem respirasi terdiri dari:

            1. Saluran nafas bagian atas

                  Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disarung dan                           dilembabkan

          2. Saluran nafas bagian bawah

 

                    Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke                                     alveoli

            3. Alveoli

                        terjadi pertukaran gas anatara O2 dan CO2

            4. Sirkulasi paru

                        Pembuluh darah arteri menuju paru, sedangkan pembuluh darah vena                           meninggalkan paru.

            5. Paru

                        terdiri dari :

a.       Saluran nafas bagian bawah

b.      Alveoli

c.       Sirkulasi paru

6. Rongga Pleura

            Terbentuk dari dua selaput serosa, yang meluputi dinding dalam rongga             dada yang disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura   veseralis

 

 

7. Rongga dan dinding dada

            Merupakan pompa muskuloskeletal yang mengatur pertukaran gas dalam        proses respirasi

 

Saluran Nafas Bagian Atas

a.       Rongga hidung

       Udara yang dihirup melalui hidung akan mengalami  tiga hal :

-         Dihangatkan

-         Disaring

-         Dan dilembabkan

Yang merupakan fungsi utama dari selaput lendir respirasi ( terdiri dari : Psedostrafied ciliated columnar epitelium yang berfungsi menggerakkan partikel partikel halus kearah faring sedangkan partikel yang besar akan disaring oleh bulu hidung, sel golbet dan kelenjar serous yang berfungsi melembabkan udara yang masuk,  pembuluh darah yang berfungsi menghangatkan udara). Ketiga hal tersebut dibantu dengan concha. Kemudian udara akan diteruskan ke

b.      Nasofaring (terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius)

c.       Orofaring (merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah)

d.       Laringofaring(terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan)

 

Saluran Nafas Bagian Bawah

a.       Laring

       Terdiri dari tiga struktur yang penting

-         Tulang rawan krikoid

-         Selaput/pita suara

-         Epilotis

-         Glotis

b.      Trakhea

       Merupakan pipa silider dengan panjang ± 11 cm, berbentuk ¾ cincin tulang rawan        seperti huruf C. Bagian belakang dihubungkan  oleh membran fibroelastic menempel pada dinding depan usofagus.

c.       Bronkhi

       Merupakan percabangan trakhea kanan dan kiri. Tempat percabangan ini disebut         carina. Brochus kanan lebih pendek, lebar dan lebih dekat dengan trachea.

       Bronchus kanan bercabang menjadi : lobus superior, medius, inferior. Brochus         kiri terdiri dari : lobus superior dan inferior

 

Alveoli

Terdiri dari : membran alveolar dan ruang interstisial.

Membran alveolar :

-         Small alveolar cell dengan ekstensi ektoplasmik ke arah rongga alveoli

-         Large alveolar cell mengandung inclusion bodies yang menghasilkan surfactant.

-         Anastomosing capillary, merupakan system vena dan arteri yang saling berhubungan langsung, ini terdiri dari : sel endotel, aliran darah dalam rongga endotel

-         Interstitial space merupakan ruangan yang dibentuk oleh : endotel kapiler, epitel alveoli, saluran limfe, jaringan kolagen dan sedikit serum.

 

Aliran pertukaran gas

Proses pertukaran gas berlangsung sebagai berikut: alveoli epitel alveoli « membran dasar « endotel kapiler « plasma « eitrosit.

Membran « sitoplasma eritrosit «  molekul hemoglobin

  

                                                                                Co²

 

 

Surfactant

Mengatur hubungan antara cairan dan gas. Dalam keadaan normal surfactant ini akan  menurunkan tekanan permukaan  pada  waktu ekspirasi, sehingga kolaps alveoli dapat dihindari.

 

 

 

Sirkulasi Paru

Mengatur aliran darah vena – vena dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis dan mengalirkan darah yang bersifat arterial melaului vena pulmonalis kembali ke ventrikel kiri.

 

Paru  

Merupakan  jalinan atau susunan bronhus bronkhiolus, bronkhiolus terminalis, bronkhiolus respiratoty, alveoli, sirkulasi paru, syaraf, sistem limfatik.

 

Rongga dan Dinding Dada

Rongga ini terbentuk oleh:

-         Otot –otot interkostalis

-         Otot – otot pektoralis mayor dan minor

-         Otot – otot trapezius

-         Otot –otot seratus anterior/posterior

-         Kosta- kosta dan kolumna vertebralis

-         Kedua hemi diafragma

Yang secara aktif mengatur mekanik respirasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                               Gambar 1 Anatomi sistem pernafasan

FUNGSI RESPIRASI DAN NON RESPIRASI DARI PARU

1.       Respirasi : pertukaran gas O² dan CO²

2.       Keseimbangan asam basa

3.       Keseimbangan cairan

4.       Keseimbangan suhu  tubuh

5.       Membantu venous return darah ke atrium kanan selama fase inspirasi

6.       Endokrin : keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dan angiotensin

7.       Perlindungan terhadap infeksi: makrofag yang akan membunuh bakteri

 

Mekanisme Pernafasan

Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk metabolisme tubuh diperlukan usaha keras pernafasan yang tergantung pada:

 

1.      Tekanan intar-pleural

Dinding dada merupakan suatu kompartemen tertutup melingkupi paru. Dalam keadaan normal paru seakan melekat pada dinding dada, hal ini disebabkan karena ada perbedaan tekanan atau selisih tekanan atmosfir ( 760 mmHg) dan tekanan intra pleural (755 mmHg). Sewaktu inspirasi diafrgama berkontraksi, volume rongga dada meningkat, tekanan intar pleural dan intar alveolar turun dibawah tekanan atmosfir sehingga udara masuk Sedangkan waktu ekspirasi volum rongga dada mengecil mengakibatkan tekanan intra pleural dan tekanan intra alveolar meningkat diatas atmosfir sehingga udara mengalir keluar.

 

2.      Compliance

Hubungan antara perubahan tekanan dengan perubahan volume dan aliran dikenal sebagai copliance.

Ada dua bentuk compliance:

-         Static compliance, perubahan volum paru persatuan perubahan tekanan saluran nafas ( airway pressure) sewaktu paru tidak bergerak. Pada orang dewasa muda normal : 100 ml/cm H2O

-         Effective Compliance : (tidal volume/peak pressure) selama fase pernafasan. Normal: ±50 ml/cm H2O

Compliance dapat menurun karena:

-         Pulmonary stiffes : atelektasis, pneumonia, edema paru, fibrosis paru

-         Space occupying prosess: effuse pleura, pneumothorak

-         Chestwall undistensibility: kifoskoliosis, obesitas, distensi abdomen

Penurunan compliance akan mengabikabtkan meningkatnya usaha/kerja nafas.

 

3.      Airway resistance (tahanan saluran nafas)

Rasio dari perubahan tekanan jalan nafas

 

SIRKULASI PARU

a.       Pulmonary blood flow total  = 5 liter/menit

      Ventilasi alveolar = 4 liter/menit

      Sehingga ratio ventilasi dengan aliran darah dalam keadaan normal = 4/5 = 0,8

b.      Tekanan arteri pulmonal = 25/10 mmHg dengan rata-rata = 15 mmHg.

      Tekanan           vena pulmolais = 5 mmHg, mean capilary pressure = 7 mmHg

      Sehingga pada keadaan normal terdapat perbedaan 10 mmHg untuk mengalirkan          darah dari arteri pulmonalis ke vena pulmonalis

c.   Adanya mean capilary pressure mengakibatkan garam dan air mengalir dari    rongga kapiler ke rongga interstitial, sedangkan osmotic colloid pressure                akan menarik garam dan air dari rongga interstitial kearah rongga kapiler.      Kondisi ini dalam keadaan normal selalu seimbang.Peningkatan tekanan             kapiler             atau penurunan koloid akan menyebabkan peningkatan akumulasi air dan           garam   dalam   rongga interstitial.

     

TRANSPOR OKSIGEN

1.Hemoglobin

Oksigen dalam darah diangkut dalam dua bentuk:

-         Kelarutan fisik dalam plasma

-         Ikatan kimiawi dengan hemoglobin

Ikatan hemoglobin dengan tergantung pada saturasi O2, jumlahnya dipengaruhi oleh pH darah dan suhu tubuh. Setiap penurunan pH dan kenaikkan suhu tubuh mengakibatkan ikatan hemoglobin dan O2 menurun.

2. Oksigen content

Jumlah oksigen yang dibawa oleh darah dikenal sebagai oksigen content (Ca O2 )

-         Plasma

-         Hemoglobin

 

REGULASI VENTILASI

Kontrol dari pengaturan ventilasi dilakukan oleh sistem syaraf dan kadar/konsentrasi gas-gas yang ada di dalam darah

Pusat respirasi di medulla oblongata mengatur:

-Rate impuls                           Respirasi rate

-Amplitudo impuls                 Tidal volume

Pusat inspirasi dan ekspirasi : posterior medulla oblongata, pusat kemo reseptor : anterior medulla oblongata, pusat apneu dan pneumothoraks : pons.

Rangsang ventilasi terjadi atas : PaCo2, pH darah, PaO2

 

PEMERIKSAAN FUNGSI PARU

Kegunaan: untuk mendiagnostik adanya : sesak nafas, sianosis, sindrom bronkitis

Indikasi klinik:

- Kelainan jalan nafas paru,pleura dan dinding toraks

- Payah jantung kanan dan kiri

- Diagnostik pra bedah toraks dan abdomen

- Penyakit-penyakit neuromuskuler

- Usia lebih dari 55 tahun.         

 

 

 


ANATOMI FISIOLGI SISTEM CARDIVASCULER

Juli 16, 2008

STRUKTUR DAN FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER

Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada diantara kedua paru.Terdapat selaput yang mengitari jantung yang disebut perikardium, terdiri dari dua lapisan:

-         Perikardium parietalis : lapisan luar melekat pada tulang dada dan paru

-         Perikardium viseralis : lapisan permukaan jantung/ epikardium

Diantara kedua lapisan ini terdapat cairan perikardium.

 

STRUKTUR JANTUNG

Dinding jantung terdiri dari 3lapisan :

1.      Lapisan luar (epikardium)

2.      Lapisan tengah (Miokardium)

3.      Lapisan dalam (endokardium)

 

Ruang – Ruang Jantung

Jantung terdiri dari 4 ruang, yaitu 2 berdinding tipis disebut atrium(serambi) dan 2 berdinding tebal disebut ventrikel (bilik)

1.      Atrium

a.       Atrium kanan berfungsi sebagai penampung darah rendah oksigen dari seluruh tubuh. Kemudian darah dipompakan ke ventrikel kanan melalui katub  dan selanjutnya ke paru.

b.     Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui 4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri melalui katub dan selanjutnya ke seluruh tubuh melalui aorta.

Kedua atrium dipisahkan oleh sekat yang disebut septum atrium.

 

2.      Ventrikel

      Merupakan alur alur otot yang disebut trabekula. Alur yang menonjol disebut   muskulus papilaris, ujungnya dihubungkan dengan tepi daun katub           atrioventrikuler oleh serat yang disebut korda tendinae.

a.       Ventrikel kanan menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke paru melalui arteri pulmonalis

b.      Ventrikel kiri menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan keseluruh tubuh melalui aorta

            Kedua ventrikel dipisahkan oleh sekat yang disebut septum ventrikel.

 

Katup Katup Jantung

1.      Katup atrioventrikuler

Terletak antara atrium dan ventrikel. Katup yang terletak diantara atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai 3 buah daun katup ( trikuspid). Sedangkan katup yang terletak diantara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai dua buah daun katup ( Mitral). Memungkinkan darah mengalir dari atrium ke ventrikel pada fase diastole dan mencegah aliran balik pada fase sistolik.

2.      Katup Semilunar

a.       Katup Pulmonal terletak pada arteri pulmonalis dan memisahkan pembuluh ini dari ventrikel kanan.

b.      Katup Aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta.

 Kedua katup ini mempunyai bentuk yang sama terdiri dari 3 buah daun katup yang simetris. Danya katup ini memungkinkan darah mengalir dari masing-masing ventrikel ke arteri selama sistole dan mencegah aliran balik pada waktu diastole.

 

Pembukaan katup terjadi pada waktu masing-masing ventrikel berkontraksi, dimana tekanan ventrikel lebih tinggi dari tekanan didalam pembuluh darah arteri.

 

Pembuluh Darah Koroner

1.      Arteri

      Dibagi menjadi dua :

-         Left Coronary Arteri (LCA) : left main kemudian bercabang besar menjadi: left  anterior decending arteri(LAD), left circumplex arteri (LCX)

-         Right Coronary Arteri

2. Vena: vena tebesian, vena kardiaka anterior, dan sinus koronarius.

 

 

                    Gambar 2. Anatomi Jantung dan pembuluh Darah Koroner

 

FUNGSI SISTEM KARDIOVASKULER

Lingkaran sirkulasi dapat dibagi atas dua bagian besar yaitu sirkulasi sistemik dan sirkulasi pulmonalis

Sirkulasi Sistemik

1.      Mengalirkan darah ke berbagi organ

2.      Memenuhi kebutuhan organ yang berbeda

3.      Memerlukan tekanan permulaan yang besar

4.      Banyak mengalami tahanan

5.      Kolom hidrostatik panjang

 

Sirkulasi Pulmonal

1.      Hanya mengalirkan darah ke paru

2.      Hanya berfungsi untuk paru

3.      Mempunyai tekanan permulaan yang rendah

4.      hanya sedikit mengalai tahanan

5.      Kolom hidrostatik pendek

 

Sirkulasi Koroner

Sirkulasi koroner meliputi seluruh permukaan jantung dan membawa oksigen untuk miokardium melalui cabang cabang intar miokardial yang kecil. Aliran darah koroner meningkat pada:

1.      Aktifitas

2.      Denyut jantung

3.      Rangsang sistem syaraf simpatis 

 

                                

PERTIMBANGAN BIOFISIKA

Hubungan antara aliran, tekanan, dan tahanan:

1.      Aliran darah: perbedaan tekanan dan hambatan aliran darah sepanjang pembuluh

      (vasculer resistance)

2.      Tekanan darah

      Adalah tenaga yang diupayakan oleh darah untuk melewati setiap unit atau daerah          dari dinding pembuluh darah.

 

3.      Resistensi Terhadap Aliran darah.

      Dikenal dengan SVR (sistemic vasculer resistance ) dan PVR (Pulmonal vasculer     reristance). Ditentukan oleh diameter pembuluh darah dan viscositas.

 

SISTEM KONDUKSI ATAU HANTARAN

Di dalam otot jantung terdapat jaringan khusus yang mengahntarkan aliran listrik. Jaringan tersebut mempunyai sifat-sifat khusus:

1.      Otomatisasi                 : menimbulkan impuls/rangsang secara spontan

2.      Irama                           : pembentukan rangsang yang teratur

3.      Daya konduksi : kemampuan untuk menghantarkan

4.      Daya rangsang  : kemampuan bereaksi terhadap rangsang         

Perjalan impuls/rangsang dimulai dari:

1.      Nodus SA (sino atrial)

-         traktus iternodal

-         Brachman bundle

2.      Nodus AV (atrio ventrikel)

3.      Bundle of HIS ( bercabang menjadi dua: kanan dan kiri):

      - Rihgt bundle branch

          - Left bundel brac

4. Sistem PURKINJE

                          

SIKLUS JANTUNG

1.      Fase kontraksi isovolumetrik

2.      Fase ejeksi cepat

3.      Fase diastasis

4.      Fase pengisian cepat

5.      Fase relaksasi isovolumetrik

 

FAKTOR FAKTOR PENENTU KERJA JANTUNG

Faktor jantung dipengaruhi oleh 4 faktor utama yang saling berkaitan dalam menentukan isi sekuncup (stroke volume) dsan curah jantung (cardiac output)

 

Beban Awal (Preload)

1.      Derajat dimana otot jantung diregangkan sebelum ventrikel kiri berkontraksi (ventrikel end diastolic volume)

2.      Berhubungan dengan panajng otot jantung, regangan dan volume.

3.      Semakin regang serabut otot jantung pada batas tertentu semakin kuat kontraksi.

Faktor penentu beban awal:

1.      Insufisiensi mitral ­ beban awal

2.      Stenosis mitral ¯ beban awal

3.      volume sirkulasi

4.      Obat-obatan : vasokontriktor ­, vasodilator ¯

 

Beban Akhir (Afterload)

1.      Tahanan yang harus dihadapi saat darah keluar dari ventrikel kiri

2.      Beban untuk membuka katup aorta dan mendorong darah selama fase sistolik.

3.      Systemic vascular resistance (SVR)

Faktor penentu beban akhirr:

1.      Stenosis aorta meningkatkan beban akhir

2.     Vasokontriksi perifer meningkatkan beban akhir

3.     Hipertensi meningkatkan beban akhir

4.     obat-obatan.

Kontraktilitas

Hukum Frank – Straling

-         Makin besar isi jantung sewaktu diastole semakin besar jumjalh darah yang dipompaakan ke aorta

-         Dalam batas-batas fisiologis jantung memompkan keseluruh tubuh darah yang kembali ke jantung tanpa menyebabklan penumpukan di vena

-         Jantung dapat memompakan jumlah darah yang sedikit ataupun jumlah darah yang besar bergantung pada jumlah darah yang mengalir kembali ke vena

 

Frekuensi Jantung

 

 

                                                Patofisiologi

Blood pressure =


Cardic out put      X       Tahanan perifer    

        

   HR x Stroke Volume                 Kontrol Hormonal    Kontrol system syaraf simpatik       Kontrol Lokal

Pre load   After load   Kontraktilitas  

 

 

 

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.